Teks Hikayat Di ubah Menjadi Cerpen. Aulia Anggraini XB Al Ghazali
Si Miskin
Dahulu kala, ada sepasang suami istri yang terkena kutukan
sehingga membuat keduanya jatuh miskin. Mereka dikarunai sebuah anak yang di
beri nama Marakarma, dan sejak anak itu lahir hidup mereka pun menjadi sejahtera
dan berkecukupan. Ayahnya termakan ucapan para ahli nujum yang mengatakan bahwa
anak itu pembawa sial dan mereka harus membuangnya. Setelah membuangnya, mereka
kembali hidup sengsara. Pada saat itu juga, Marakarma mempelajari ilmu
kesaktian. Suatu ketika ia di tuduh mencuri barang dan Marakarma pun di buang
ke laut. Ia terdampar di tepi pantai tempat tinggal raksasa pemakan segalanya.
Ada seorang Putri Cahaya yang menyelamatkannya. Mereka pun kabur dan membunuh
raksasa itu. Nahkoda kapal mempunyai niat jahat untuk membuang Marakarma ke
laut, dan seekor ikan membawanya ke Negeri Pelinggam Cahaya dimana kapal itu
singgah.
Marakarma tinggal bersama Nenek Kebayan dan ia pun mengetahui bahwa Putri
Mayang adalah adik kandungnya. Lalu Marakarma kembali ke Negeri PuspaSari dan
ibunya menjadi pemungut kayu. Lalu ia memohon kepada Dewa untuk mengembalikan
keadaan PuspaSari. PuspaSari pun kembali makmur,tetapi itu membuat Maharaja
Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakarma menjadi Sultan
Mercu Negara.
Unsur Intrinsik
Tema : Inti cerita dari kisah hikayat si Miskin adalah tentang penderitaan. Tak hanya penderitaan dari sisi ekonomi, melainkan juga karena disiksa oleh orang lain.
Tokoh Perwatakan : Orang tua dari Marakarma sifatnya sangat
mudah terpengaruh perkataan orang lain.
Marakarma digambarkan setia,sakti,dan bukan seorang yang pendendam.
Putri cahaya merupakan orang yang baik dan tidak mudah menyerah.
Nenek Kebayan adalah orang yang menyelamatkan hidup Marakarma, seorang
perempuan tua yang baik hati.
Putri mayang merupakan adik dari Marakarma.
Maharaja Indra Dewa karakter yang murah hati. Namun, ternyata ia sebenarnya adalah
seseorang yang mudah iri dengan kesuksesan orang lain
Latar : Latar Tempat = Negeri antah berantah,Negeri
Puspasari,Lautan,Tepian pantai pulau raksasa, Kapal,Negeri Palinggam Cahaya.
Latar Suasana = tegang, mencekam dan ketakutan, bahagia, menyedihkan.
Alur : Alurnya menggunakan alur maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.
Pesan moral : 1. Seorang pemimpin yang baik adalah orang
yang adil dan pemurah.
2. Janganlah mudah terpengaruh dengan perkataan orang lain.
3. Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan rendah
hati.
4. Jangan memandang seseorang dari luarnya saja, tapi lihat lah kedalam
hatinya.
5. Jangan mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.
Komentar
Posting Komentar